Membasuh Luka dengan Nada: Bagaimana Baskara Putra Menormalisasi Rapuh di AtasPanggung

Biasanya, panggung musik identik dengan sosok yang terlihat kuat dan tak tersentuh. Lampu sorot, sorak penonton, dan citra sempurna seolah menjadi paket wajib seseorang musisi. Namun gambaran itu tidak sepenuhnya berlaku ketika Baskara Putra berdiri di atas panggung. Alih – alih menampilkan figure tanpa cela. Ia justru membawa kegelisahan pribadinya ke hadapan publik, seolah berkata bahwa ia pun manusia biasa yang sedang berproses.

Daniel Baskara Putra lahir di Jakarta, 22 Februari 1994. Besar di tengah hiruk – pikuk ibu kota membuatnya akrab dengan dinamika kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan. Latar belakang pendidikannya dalam menyampaikan pesan. Bagi Baskara, suara dan kata bukan sekedar hiburan, melainkan alat untuk berbagi keresahan secara jujur.

 Dalam perjalanan kariernya, Baskara dikenal memiliki banyak wajah. Bersama .Feast ia tampil lantang dan penuh amarah. Namun melalui proyek solonya, Hindia ia memilih jalur yang lebih personal. Di sini, kemarahan berganti dengan pengakuan dan suara keras berubah menjadi cerita – cerita yang lebih tenang tapi menghantam perasaan.

Menonton konser Hindia bukan hanya soal menikmati musik secara langsung. Bagi banyak penonton, itu adalah ruang untuk meluapkan emosi yang selama ini terpendam. Sejak Menari dengan Bayangan (2019) hingga Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023), panggung Hindia kerap terasa seperti tempat berbagi luka bersama.

Baskara tidak berusaha terlihat hebat. Ia sering berbicara jujur tentang kelelahan, tekanan, bahkan rasa ragu yang ia alami sebagai musisi dan pendiri label rekaman Sun Eater. Di tengah industry yang menuntut citra sempurna, sikap ini terasa tidak biasa. Namun justru di situlah kekuatannya, ia menunjukan bahwa rapuh bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Saat Musik Menjadi Penawar Sementara

Tulisan – tulisan Baskara kerap lahir dari percakapan batin. Ia membicarakan fase hidup yang membingungkan, ketakutan akan kegagalan, hingga isu kesehatan mental yang sering dianggap sensitive. Meski temanya berat, balutan musik membuatnya terasa lebih mudah diterima.

Nada – nada yang ia hadirkan tidak menghapus luka, tetapi memberi ruang untuk menghadapinya. Musik menjadi penahan sementara, cukup untuk membuat pendengarnya bertahan satu hari lagi. Dari sini, terlihat bahwa keberanian Baskara bukan terletak pada pura – pura kuat, melainkan pada kemauannya membuka diri.

Reprentasi Sebuah Generasi

Baskara Putra menjadi sosok yang dekat dengan generasinya karena ia mereprentasikan kegelisahan yang sama. Di saat media sosial mendorong semua orang untuk selalu terlihat bahagia, kehadiran Baskara terasa menenangkan. Ia tidak menjual janji atau solusi instan. Ia hanya hadir, mendengarkan, dan berbagi rasa.

Lewat musiknya, ia seperti mengatakan bahwa tidak apa – apa jika hari ini terasa berat. Tidak apa – ap ajika belum menemukan jawaban. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik – baik saja.

Menerima Luka Sebagai Bagian Hidup

Pada akhirnya, karya – karya Baskara Putra adalah ajakan untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ia tidak meminta pendengarnya untuk segera sembuh, tetapi juga mengajak mereka berhenti menyangkal luka yang ada. Di atas penggung, dengan segala kerentanannya, Baskara telah mengubah konser menjadi ruang aman. Tempat di mana musik perlahan membersihkan luka, bukan hanya miliknya, tapi juga milik mereka yang mendengarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *