
KH Abdullah Gymnastiar, atau Aa Gym, lahir di Bandung pada 29 Januari 1962. Masa mudanya diwarnai kedisiplinan sebagai komandan resimen mahasiswa di Universitas Ahmad Yani, membentuk karakter kuat sebelum beralih ke ilmu agama. Titik balik terjadi tahun 1990: ia mendirikan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid di rumah kontrakan sederhana. Di sinilah lahir “Manajemen Qolbu”, metode dakwah yang menekankan penataan hati dan akhlak mulia.
Awal 2000-an, popularitasnya meledak nasional. Aa Gym hadir sebagai ikon dakwah ramah, bersih,
dan produktif, menyentuh semua lapisan masyarakat dari kaum masyarakat bawah hingga
elit politik. Slogan “3M” (mulai dari diri sendiri, hal kecil, saat ini) membangkitkan kesadaran etis
publik. Pesantrennya di Gegerkalong, Bandung, jadi pusat kemandirian ekonomi lewat unit bisnis syariah modern

Tak luput ujian: tahun 2006, keputusan berpoligami memicu kontroversi besar, mengguncang lembaganya. Aa Gym memilih menepi untuk evaluasi internal, lalu bangkit dengan konsistensi di pendidikan dan pemberdayaan umat. Ia buktikan integritas melalui kesabaran menghadapi dinamika sosial dan kejujuran atas keterbatasan manusiawi.
Masuk 2020-an hingga akhir 2025, Aa Gym bertransformasi matang dan adaptif. Dakwah konvensional bergeser digital via YouTube Aagym Official dan Instagram @aagym, relevan bagi generasi Z. Perjalanannya dari pengusaha muda ke guru bangsa tunjukkan siklus kehidupan utuh : kepemimpinan sejati ada pada kemanfaatan berkelanjutan, bukan ketenaran fluktuatif. Di dunia kompleks, ia ingatkan: jernihkan hati untuk ketenangan abadi
